Kamis, 10 Mei 2012 0 komentar

CEMBURU

Sifat cemburu ini adalah naluri manusia yang sememangnya amat sukar dibendung.
Ramai yang beranggapan bahawa orang perempuan kuat cemburu.
Sebenarnya dalam soal ini, lelaki atau wanita, sifat cemburu ini ada pada setiap manusia.

..................................

Nah hal inilah yang sering  terjadi menimpa saya....
entah itu hanya cemburu buta atau apalah bahasanya....
memang semua org punya hak untuk mengagumi dan dikagumi....,tidak bisa dipungkiri bahwa si "doi" ini memang pantas dikagumi....,sedangkan saya????

Alhamdulillah hanya beruntung bisa mendapatkan hatinya....

 memang resiko....
hal tersulit dalam menjaga sebuah hubungan adalah menjaga hati....
walaupun itu bukan menjadi suatu masalah buat saya...,karena sekali saya cinta...., insya Allah tetap cinta....

.................................

ya itu sekilas tentang saya.....

sekarang saya pengen cerita di blog tentang apa yg saya rasakan hari ini.....

sedih....
risih....
takut....
bimbang....
marah....

..........................................

itu beberapa perasaan yang sampai sekarang masih sangat sulit untuk saya kendalikan....
dah hal itu semua akan timbul menyeruak keluar dan merusak kepribadian saya dalam sekejap....,dan sayangnya lagi itu semua muncul ketika saya "CEMBURU"....

Astaghfirullah.......

hari ini adalah hari yang sangat melelahkan dimana jadwal kuliah padat dengan jeda waktu istirahat sangan sedikit....

lansung saja skip ke akhir......

Alhamdulillah berakhirlah sdh ujian praktikum hari ini.....
saya keluar dari ruang ujian dengan senyuman karena alhamdulillah bisa menjawab dengan lancar....
saya pun langsung mencari si "doi" dan ingin menceritakan dengan sumringah alhamdulillah lancar ujiannya.....

akan tetapi.....

ketika saya masuk ke "ruang tunggu" dimana si "doi" berada hilang semangat beserta dengan senyuman saya...
saya melihat dia duduk hadap-hadapan dengan cowo yang saya "tidak suka" bila dekat-dekat si "doi"....

...................

sedih....
risih....
takut....
bimbang....
marah....

saya pun berusaha menutupi semua perasaan saya itu dengan tidak melihat wajahnya....
karena apa...
saya tidak mau dia melihat wajah saya pada saat itu....

saya diam...
diam...
diam...

hanya diam sepanjang perjalanan pulang menuju kost dia...
hanya sebersit kata yang muncul ketika itu yaitu "walaikumsalam" ketika dia menyampaikn salam perpisahan....

di jalan saya berfikir "WAJARKAH SAYA CEMBURU???"

sampai sekarang pun saya masih bingung....
tapi saya berusaha untuk tetap menjaga hati....

saya sedih karena melihat hal itu....
saya risih karena takut dicap sebagai orang yg pencemburu....
saya takut bukan berarti tidak percaya....
saya bimbang bukan berarti ragu....
saya marah pada diri saya yang tidak terbiasa dengan cinta....

naaaaaahhh........,itu hanya sepenggal cerita tentang apa yang saya rasakan pada saat ini....
semoga tidak berlangsung lama....
tujuan saya menulis ini hanya untuk menyampaikan apa yang saya rasakan saat ini dan semoga dengan ini saya bisa menjadi lega...

untuk my IMR...
bila membaca ini, jangan salah tafsir dengan isinya...
saya pun sedang berusaha untuk mengendalikan perasaan saya...
kenapa saya tulis di blog dan tidak langsung berkata langsung...
itu semua karena saya tidak ingin memperpanjang masalah ini....,biarlah berlalu, saya anggp ini sebagai materi dalam perjalan hidup saya...
mohon dimaklumi dengan MWA ini...
MWA yg baru mengenal arti cinta :)





Senin, 07 Mei 2012 2 komentar

Fenomena Senioritas di Kampus, Panutan atau Sok-sok an???


Mendengar kata senior pikiran kita langsung tertuju pada sosok mahasiswa semester atas atau mahasiswa yang memang dianggap senior di lingkungan kampus. Mahasiswa senior sering diidentikan dengan sosok mahasiswa seenaknya sendiri pada juniornya, sok berkuasa dan sok paling tahu tentang hal-hal yang ada di kampus.

Ya maklum saja, mereka (mahasiswa senior) menang lebih dulu menjadi mahasiswa di banding dengan para juniornya. Tapi, apakah dengan menyandang “gelar” senior lantas membuat mahasiswa bias berbuat seenaknya dengan semua juniornya??

Sebenarnya, perlu atau tidak senioritas dan apakah ada manfaatnya????

Definisi umum senior, istilah senior dan junior adalah hal-hal yang berkaitan dengan umur,tingkat pendidikan,wawasan, jabatan dan sebagainya. Kata ini sering sekali menjadi belenggu dan dilema yang membatasi seseorang untuk bergerak maju. Mari kita ambil contoh lingkungan pendidikan kita. Ada kalanya seorang siswa yang pintar tidak berani untuk menonjolkan diri karena ia “menghargai” para seniornya, padahal ia mampu dan bahkan bisa berbuat jauh lebih baik dari seniornya, atau, ada senior yang cenderung memaksakan kehendak kepada “bawahannya” untuk melakukan keinginannya, dan sang junior (bawahan) dengan terpaksa harus mau melakukannya. Apakah ini sebuah dogma dari tata krama yang ada di masyarakat kita atau ini sebuah keegoisan belaka? Jawaban pertanyaan ini kembali kepada kita semua.

            Di dalam pergaulan kampus, kita juga selalu dihadapkan pada kenyataan senioritas ini. Sebagai mahasiswa baru, kita sering dituntut untuk berada di bawah para senior yang telah terlebih dahulu berada disana. Dalam memberi pendapat, kita juga harus tidak boleh melanggar kepentingan mereka, dan bahkan kita malah terpaksa untuk mengikuti keinginan mereka padahal sebenarnya pendapat yang mereka ajukan tidak sesuai menurut kita. Bila kita berusaha untuk menolak atau melanggar ini, maka kita dianggap tidak memiliki rasa sopan santun. Mengapa masalah senioritas dikaitkan dengan sopan santun dan etika?

Ketika founding fathers memutuskan untuk membangun negeri ini menjadi bangsa yang modern, pada hakikatnya mereka sedang menggulirkan dialektika baru. Diputuskanlah dialektika baru itu adalah demokrasi sebagai pengganti dialektika lama “sistem feudal” yang dianggap sudah usang dan tak sanggup menjadi komandan dalam membangun negeri ini menjadi bangsa yang modern.
Akan tetapi, pengaruh budaya feodal yang notabene merupakan warisan leluhur masih sangat kuat melilit bangsa ini. Dialektika yang sebenarnya ingin ditinggalkan, telah mendarah daging sehingga sulit menanggalkannya. Akibatnya, dalam tataran perilaku politik dan ekonomi, kita masih bersikap dan mengacu pada nilai-nilai feodal. Para pemegang kekuasaan, masih menghayati kekuasaan sebagai amunisi ampuh untuk mengakumulasi kenikmatan pribadi, keluarga,dankawan-kawannya.

Di tengah ketidakberdayaan akan feodalisme, rakyat memimpikan sosok yang dapat membawa mereka keluar dari lembah nestapa itu penyebab kemunduran bangsa. Agen perubahan seperti mahasiswa sebenarnya menjadi pilihan utama. Namun, panggilan ini sepertinya tak digubrisnya sekaligus mencampakkan konstelasi keamanahannya sebagai pengayom bangsa. Fenomena senioritas dalam OSPEK menjadi sebabnya.

Fenomena senioritas memperlihatkan standar ganda pergerakan mahasiswa. Masih terpatri dalam ingatan, perjuangan mahasiswa yang ketika itu gundah gulana atas kondisi negerinya, berusaha keras membuka gerbang reformasi dengan maksud memudahkan penghujaman terselenggaranya pemerintahan dan kehidupan yang demokratis, yang dianggap sebagai prasyarat pengentasan permasalahan negerinya. Namun, di sisi lain, fenomena senioritas menjadi bukti tak terbantahkan terhadap sinyal pemupukan tesis feodalisme bak menjungkirbalikan antitesis demokrasi yang justru sering mereka suakan.

Standar ganda memang sepantasnya menohok harga diri mahasiswa yang dianugrahi masyarakat sebagai agen perubahan. Pasalnya, senioritas telah diluar ambang kewajaran. Tradisi balas dendam menjadi motivasi yang kasat mata namun menyeruak telanjang. Senior tak segan lagi mempraktikan aji mumpung paham kesempatan dalam kesempitan.

            Polemik ini memang memiliki dampak yang tidak kasat mata tapi akan terdapat efek gaung yang berakibat pada perubahan mental junior secara fundamental. Dunia kampus yang notabene sebagai tempat pembibitan calon intelektual harapan bangsa malah melahirkan manusia bermental kerdil yang mengsampingkan hati nurani dalam bertindak.

            Pengekangan budaya berani dan kritis mengakibatkan jurang pemisahan antara senior dan junior menganga lebar. Pasalnya, senior kerap memposisikan junior sebagai objek yang bisa diperlakukan seenaknya. Inilah barangkali perilaku senior-junior yang kebablasan. Pada akhirnya, OSPEK hanya menelurkan mahasiswa bermental apatis.
 
;